Tradisi Nyadran di desa kemaduh atau biasa disebut Nyadranan, Nyadranan merupakan tradisi yang mana masyarakat merayakan upacara syukuran yang di lakukan di punden sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki serta syukur atas hasil panen masyarakat daerah tersebut. Nyadran di desa kemaduh juga bisa disebut sebagai bersih desa, acara ini memang di lakukan masyarakat setelah pasca panen.
Setelah semua masyarakat berkumpul di punden, upacara akan dimulai dengan sambutan kepala desa kemaduh yaitu bapak (Hawwyn Duta Satriawan) lalu di lanjutkan pembacaan doa-doa oleh tokoh adat setempat. Setelah selesai pembacaan doa makanan akan bersama sama di rebut oleh masyarakat yg mengikuti upacara tersebut, pada bagian ini menjadi hal yang paling menarik dan paling di tunggu-tunggu oleh masyarakat desa kemaduh.
Upacara ini bisa di ikuti oleh berbagai kalangan baik orang dewasa maupun anak kecil. Sehingga pelaksanaan upacara nyadran ini berlangsung begitu meriah.
Tidak berhenti disini, selesai melaksanakan upacara di punden masyarakat kembali berbondong-bondong mempersiapkan acara selanjutnya yang disana terdapat hiburan untuk perayaan upacara, hiburan berupa seni tayub pada siang hari dan dilanjutkan pagelaran wayang kulit pada malam harinya.